Ma'shiyat Membawa Malapetaka

MA’SHIYAT MEMBAWA MALAPETAKA

 

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,

Allooh سبحانه وتعالى sangat kasih dan sayang terhadap hamba-Nya, karena itu bimbingan senantiasa ditawarkan untuk mereka agar meniti hidup ini sesuai dengan kehendak-Nya.

Berbagai anugerah tak henti-hentinya Allooh سبحانه وتعالى tumpahkan kepada mereka, walaupun mereka tidak sedikit yang belum menyadari bahwa jika nikmat Allooh سبحانه وتعالى itu disyukuri maka Allooh سبحانه وتعالى akan balas dengan keberkahan dan kebajikan, bukan saja di akhirat tapi juga di dunia ini. Dan sebaliknya, jika anugerah Allooh سبحانه وتعالى itu diingkari, maka sungguh siksa dan adzab Allooh سبحانه وتعالى yang sangat pedih tidak akan ada siapa pun yang mampu menghalaunya, jangankan di akherat, di dunia pun mereka sudah bisa merasakannya.

Seribu empat ratus tiga puluh tahun lebih, Rosuul Muhammad  صلى الله عليه وسلم telah mengkhabarkan dan memberikan kewaspadaan kepada ummat manusia, terutama ummatnya yakni kaum muslimin, bahwa jika syariat Allooh سبحانه وتعالى itu dilanggar dan ditentang, niscaya keperkasaan Allooh سبحانه وتعالى yang tak terkalahkan melalui berbagai bentuk murka dan petaka semakin Allooh سبحانه وتعالى wujudkan di tengah mereka. Bukan saja di kalangan orang-orang yang tenggelam dalam maksiat dan kekufuran, tapi bisa juga Allooh سبحانه وتعالى turunkan ditengah-tengah dimana disana ada orang-orang shoolih yang terdiam dari melakukan perbaikan dan amar ma’ruf nahi munkar.

Berikut ini diantara berbagai sabda Rosuul صلى الله عليه وسلم yang memberikan kepada kita berita yang terang bahkan bukti yang semakin nyata bahwa berbagai petaka sudah mulai muncul dimana-mana, tak henti-hentinya, silih berganti, bukan hanya dirasakan oleh orang-orang-orang kafir tetapi juga oleh kaum muslimin, yakni antara lain sebagai berikut:

1)    Telah diriwayatkan oleh Al Imam Al Turmudzi di dalam Sunannya, kitab “Al Fitan” Jilid 4/495 melalui salah seorang shohaby bernama ‘Imron bin Hushoin رضي الله عنه. Lalu Ibnu Abid Dunya, dalam kitabnya “Dzammul Malaa’hi” (“Tercelanya berbagai alat lahwun/ alat-alat yang melalaikan”) melalui salah seorang shohaby, Anas bin Maalik رضي الله عنه, dan haditsnya dishohiihkan oleh syaikh Nasiruddin Al Albaany dalam Silsilah Hadits Shoohih No: 2203; bahwa Rosuul Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda:

 في هذه الأمة خسف ومسخ وقذف ” فقال رجل من المسلمين : يا رسول الله ، ومتى ذلك ؟ قال : ” إذا ظهرت المعازف وكثرت القيان وشربت الخمور

Artinya:

Di tengah-tengah ummat ini akan terjadi tanah longsor, tsunami dan lemparan dari atas langit.”

Salah seorang shohabat lalu bertanya, “Wahai Rosuul, kapankah itu?” Rosuul صلى الله عليه وسلم menjawab, “Jika telah nampak musik, semakin banyak penyanyi wanita dan khomr (minuman keras) telah diminum.”

 2)    Juga perhatikan hadits dibawah ini:

عن عطـاء بن أبى رباح عن عبد الله بن عمـر، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” يَا مَعْـشَرَ الْمُـهَاجِرِيْنَ خَمْسٌ إِنِ ابْتُلِيْتُمْ بِهِنَّ وَنَـزَلَ فِيْكُمْ أَعُوْذُ بِاللهِ أَنْ تُدْرِكُوْهُنَّ :

 1.  لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِىْ قَوْمٍ قَطٌّ حَتَّى يَعْمَلُوْا بِهَا إِلاَّ ظَهَرَ فِيْهِمُ الطَّاعُوْنُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِيْ لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِيْ أَسْلاَفِهِمْ،

 2.  وَلَمْ يَنْقُصُوْا الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ إِلاَّ أُخِذُوْا بِالسَّنِيْنَ وَشِدَّةِ الْمُؤْنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ،

 3.  وَلَمْ يَمْنَعُوْا الزَّكَاةَ إِلاَّ مُنِعُوْا الْقَطْرَ مِنَ السَّمَاءِ وَلَوْ لاَ الْيَهَـائِمِ لَمْ يُمْطَرُوْا،

 4.  وَلَمْ يَنْقُضُوْا عَهْدَ اللهِ وَعَهْدَ رَسُوْلِهِ إِلاَّ سَلَّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوُّهُمْ مِنْ غَيْرِهِمْ وَأَخَذُوْا بَعْضَ مَا كَانَ فِيْ أَيْدِيْهِمْ،

 5.  وَمَا لَمْ يَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ إِلاَّ أَلْقَى اللهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ”

 Artinya :

Dari ‘Atho Bin Abi Robah dari ‘Abdullooh bin ‘Umar رضي الله عنهما, telah bersabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم: “Wahai segenap muhajirin ada lima perkara jika kalian ditimpa olehnya dan terjadi ditengh-tengah kalian – Aku berlindung pada Allooh سبحانه وتعالى agar kalian tidak mengalaminya“ :

  1. Tidaklah kekejian (zina) itu nampak pada suatu kaum sehingga mereka melakukannya, kecuali akan muncul ditengah-tengah mereka tho’un (penyakit menular) dan kelaparan yang belum pernah sedahsyat itu terjadi pada kaum-kaum sebelum mereka.
  2. Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan, kecuali mereka akan ditimpa dengan kemarau panjang, beban hidup yang berat dan penguasa yang dzolim.
  3. Tidaklah mereka enggan menunaikan zakat, kecuali mereka akan dihalangi dari hujan atas mereka; dan jikalau bukan karena Allooh سبحانه وتعالى sayang pada binatang maka Allooh سبحانه وتعالى tidak akan turunkan hujan bagi mereka.
  4. Tidaklah mereka membatalkan ikatan perjanjian mereka dengan Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya, kecuali musuh-musuh dari luar diri mereka akan menguasai mereka dan akan mengambil sebagian apa yang mereka miliki.
  5. Dan tidaklah para pemimpin mereka berhukum dengan kitab Allooh سبحانه وتعالى, kecuali mereka campakkan di tengah-tengah mereka kecekcokan.

(HR. Imam Hakim dalam “Al-Mustadrok” Kitab “Al-Fitan wal Malaahim” No 8667 dan kata beliau sanadnya shohiih dan Imam Adz-Dzahaby menyepakati-nya, juga Imam Ibnu Majah dalam kitab yang sama no. 4019. Dan Syaikh Al-Albaany meng-Hasan-kan sanadnya sebagaimana dalam Silsilah Hadits Shohihnya 1/167-169 No.106).

3)    Dan hadits berikut ini juga:

عن أنس قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم :

 إذا استعملت أمتي خمسا فعليهم الدمار : إذا ظهر فيهم التلاعن و لبس الحرير و اتخذوا القينات و شربوا الخمور واكتفى الرجال بالرجال و النساء بالنساء ( أخرجه البيهقي في شعب الإيمان : 5467

Artinya adalah:

Dari Anas bin Maalik رضي الله عنه, Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda, “Jika ummatku telah melakukan 5 perkara, maka tunggu kehancuran atas mereka:

a)    Satu sama lain diantara mereka saling mengutuk,

b)    Memakai sutra (bagi kaum laki-laki),

c)     Menjadikan para penyanyi wanita (sebagai penghibur),

d)    Meminum khomr,

e)    Laki-laki cukup dengan laki-laki, dan wanita cukup dengan wanita (homo & lesbian).”

(Hadits Riwayat Al Imam Al Baihaqy didalam Kitab : “Syu’abil Iimaan” No: 5467.

Hadits ini menurut Syaikh Nasiruddin Al Albaany berstatus Hasan Li Ghoirihi dalam Kitab “Shoohiih At Targhiib Wat Tarhiib” No: 2386.

Setiap kita hendaknya merenung, berbagai gejala yang Rosuul  صلى الله عليه وسلم sabdakan dalam ketiga hadits tersebut saja sudah menunjukkan berapa beratnya beban manusia. Berapa banyak manusia yang beriman semakin kuat imannya, yang kufur semakin bertambah kekufurannya karenanya.

Semoga kita menjadi orang yang ditunjuki oleh Allooh سبحانه وتعالى menuju jalan yang lurus sehingga hadits-hadits ini dijadikan sebagai pelajaran, dicamkan dan diaplikasikan apa yang menjadi konsekuensinya.

—–oOo—–

Silakan download PDF : Maksiat Membawa Malapetaka FNL

Islamic Calendar

[gigya width=”160″ height=”160″ src=”http://www.widgipedia.com/widgets/alhabib/Torn-Paper—Islamic-Hijri-Calendar-2823-8192_134217728.widget?__install_id=1272556831459&__view=expanded” quality=”best” flashvars=”&col1=ff3300&dayAdd=0&cal=true&gig_lt=1272556863734&gig_pt=1272556960078&gig_g=1&gig_n=wordpress” loop=”false” wmode=”transparent” menu=”false” allowScriptAccess=”sameDomain” ]

Kiat Menyiasati Hidup

بسم الله الرحمن الرحيم

 

وعن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال :  ثلاث كفارات وثلاث درجات وثلاث منجيات وثلاث مهلكات : فأما الكفارات : فإسباغ الوضوء في السبرات وانتظار الصلاة بعد الصلاة ونقل الأقدام إلى الجماعات وأما الدرجات   : فإطعام الطعام وإفشاء السلام والصلاة بالليل والناس نيام وأما المنجيات : فالعدل في الغضب والرضا والقصد في الفقر والغنى وخشية الله في السر والعلانية وأما المهلكات : فشح مطاع وهوى متبع وإعجاب المرء بنفسه

Artinya:

Dari Anas Bin Maalik رضي الله عنه, beliau berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah  bersabda :

Tiga perkara penghapus dosa, tiga perkara peninggi derajat, tiga perkara penyelamat dan tiga perkara penyebab celaka;

Adapun tiga perkara penghapus dosa: menyempurnakan wudhu di musim dingin, menunggu sholat setelah sholat dan memindahkan kaki menuju sholat berjama’ah.

Adapun tiga perkara peninggi derajat: memberi makan, menebar salam dan sholat malam di kala orang terlelap tidur.

Adapun tiga perkara penyelamat: adil dalam suka maupun marah, sederhana dalam keadaan faqir maupun cukup (kaya).

Adapun tiga perkara penyebab celaka: bakhil (kikir), hawa nafsu yang diikuti dan bangga seseorang terhadap diri”.

(HR. Imam Thobrony, Al Bazzaar dan Al Mundziry dan dishohiihkan oleh Syekh Al Albaany diantaranya dalam Silsilah Shohiihah no: 1802 )

—–oOo—–

(dinukil dan diterjemahkan oleh Ustadz Achmad Rofi’i, Lc.)

Silakan download PDF : Kiat Menyiasati Hidup FNL

10 Perkara yang Sia-sia

10 PERKARA YANG SIA-SIA DAN TIDAK MEMBERI MANFA’AT

بسم الله الرحمن الرحيم


amalan yang sia-sia

  

  1. Ilmu yang tidak diamalkan,
  2. Amalan yang tidak bertolak dari ikhlash dan berqudwah pada sunnah Rosuul صلى الله عليه وسلم ,
  3. Dan harta yang tidak diinfaqkan, dimana pemiliknya tidak menikmatinya di dunia terlebih lagi membelanjakannya untuk kepentingan akheratnya,
  4. Dan hati yang kosong dari cinta dan rindu terhadap Allooh سبحانه وتعالى,
  5. Dan badan yang tidak difunngsikan untuk tho’ah dan berkhidmah pada Allooh سبحانه وتعالى,
  6. Dan cinta yang tidak diikat oleh ridho Allooh سبحانه وتعالى dan melakukan ketaatan pada perintah-perintah-Nya,
  7. Dan waktu yang tidak dihabiskan untuk mengejar kealpaan, atau bergegas dalam kebajikan dan pendekatan diri pada Allooh سبحانه وتعالى,
  8. Dan pikiran yang terbang melayang dalam hal-hal yang tidak bermanfaat,
  9. Dan berkhidmah pada sesuatu yang tidak mendekatkan diri pada Allooh سبحانه وتعالى dan tidak mendatangkan kebajikan dunia,
  10. Dan takut dan harap pada sesuatu yang keberadaannya justru di tangan Allooh سبحانه وتعالى, menjadi tawanan dalam genggamanNya, tidak memiliki manfaat maupun madhorot (bahaya) bagi dirinya sendiri atau memiliki kematian, kehidupan dan kebangkitan.

Diantara hal-hal diatas yang terparah adalah dua hal yaitu: Menyia-nyiakan hati dan menyia-nyiakan waktu; hati menjadi sia-sia dengan sikap mengedepankan kepentingan dunyawi diatas kepentingan akherat dan waktu sia-sia karena tenggelam dalam angan-angan yang sangat panjang.

Sehingga kerusakan itu pada hakekatnya terpusat pada mengikuti hawa nafsu dan panjangnya angan-angan, dan sebagaimana seluruh kabajikan itu terpusat pada mengikuti hidayah dan bersiap untuk bertemu dengan Allooh سبحانه وتعالى .

(dinukil dan diterjemahkan dari kitabAl-Fawaa’id hal. 126 oleh Ustadz Achmad Rofi’i, Lc..)